REFLEKSI DIRI DAN ENERGI SEBAGAI TITIK NADIR PEMULIHAN BUMI


Bumi merupakan tempat hidup manusia dan berbagai spesies yang ada di dalamnya, hidup bersama berinteraksi dengan lingkungan. Untuk itu diperlukan kepedulian terhadap lingkungan dan makhluk hidup lainnya. Akan tetapi hal itu belum tercermin pada perilaku manusia abad ini. Mari kita lihat bagimana keadaan bumi tahun 2008 ini.
Tahun 2008 ini, bisa dikatakan kondisi bumi semakin parah dari tahun – tahun sebelumnya. Berbabagai masalah lingkungan makin banyak ditemukan di bumi. Seperti kenaikan permukaan air laut, perubahan iklim dan suhu, makin lebarnya lubang pada lapisan ozon, munculnya jenis penyakit lama dan baru yang mewabah, terbakarnya hutan di Kalimantan, penurunan permukaan tanah,penurunan ketersediaan air tanah serta maraknya el-Nino. Semuanya merupakan dampak dari pemanasan global yang akar penyebabnya adalah kebijakan manusia mengolah diri dan energi tanpa disertai kepedulian lingkungan.
Kekhawatiran akan masa depan bumi kini sedang melanda pikiran manusia,setelah mereka memperhatikan akibat yang terjadi pada abad ini karena ulahnya. Seperti kenaikan suhu bumi, menurut temuan Intergovermental Panel and Climate Change (IPCC). Sebuah lembaga panel internasional yang beranggotakan lebih dari 100 negara di seluruh dunia menyatakan pada tahun 2005 terjadi peningkatan suhu di dunia 0,6-0,70 sedangkan di Asia lebih tinggi, yaitu 10.

Kenaikan temperatur global tahun 1850-2006 dan 1995-2004
Sumber : www.wikipedia.com
Kenaikan tempratur inilah yang kemudian menyebabkan mencairnya gletser dan es di kutub. Lalu jika es mencair, permukaan air laut pun akn naik dan akan menyebabkan rob dan banjir di daerah – daerah rendah. Di sinyalir oleh IPCC kenaikan suhu berkontribusi langsung meningkatkan permukaan air laut setinggi 4-6 meter. Dan jika benar-benar meleleh semuanya maka akan meningkatkan permukaan air laut setinggi 7 meter pada tahun 2012. Dan pada 30 tahun kedepan tentu bisa mengancam kehidupan pesisir dan kelangkaan pangan yang luar biasa, akibat berubahnya iklim, musim hujan yang makin pendek dan kemarau semakin panjang.

Kenaikan permukaan air laut tahun 1880-2007
Sumber : www.wikipedia.com

Hal ini merupakan bencana besar bagi bumi, karena ketidakseimbangan alam sekarang ini saling terkait satu sama lain. Ibarat sebuah rantai, bila ujung satu ditarik maka keseluruhan rantai juga ikut tertarik. Kembali ke pemanasan global, temperatur yang naik itu disebabkan naiknya kadar CO2 dari tahun ke tahun. Emisi gas rumah kaca ini mengalami kenaikan 70 persen antara 1970 hingga 2004. Konsentrasi gas karbondioksida di atmosfer jauh lebih tinggi dari kandungan alaminya dalam 650 ribu tahun terakhir.

Hasil pengukuran konsentrasi CO2 di Atmosfer Gunung Mauna Loa
Sumber : www.wikipedia.com
Berdasarkan pada beberapa grafik yang telah digambarkan di atas, semua menunjukkan betapa dahsytnya pemanasan global yang sekarang sedang terjadi di bumi kita tercinta.
Itu pun hanya sebagian saja pengaruh pemanasan global. Yang lainnya antara lain wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa penyakit lainnya, semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk penyebab malaria; persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperatur meningkat. Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar adalah malaria, demam dengue, demam kuning, dan encephalitis. Para ilmuwan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold dan serbuk sari.
Karena hal tersebut, pemnasan global harus segera diatasi, agar generasi mendatang bisa hidup harmonis dengan lingkungan. Akan tetapi perlu kita kaji apa akar penyebab hal ini. Penyebabnya adalah emisi dari energi yang digunakan manusia dan aktivitas manusia itu sendiri. Hal ini terbukti dengan banyaknya gas karbondioksida di udara yang tidak lain berasal dari emisi industri dan sarana transportasi manusia.
Untuk mengatasi pemanasan global diperlukan refleksi diri dan energi, karena penyebab utamanya adalah manusia dan aktivitasnya. Adapun repleksi diri adalah sebuah pencerminan terhadap perilaku manusia saat ini terhadap lingkungan. Apa yang kita lakukan terhadap lingkungan atau apa perbuatan kita yang berdampak pada lingkungan. Sebagai contoh adalah penebangan hutan. Hutan yang merupakan paru – paru dunia dan penyerap karbondiokida terbesar di bumi ini semakin tahun semakin berkurang. Hal ini dikarenakan penebangan liar yang marak terjadi di negara – negara berkembang pada khususnya. Seperti negara kita, Indonesia pada tahun lalu tercatat pada rekor dunia ”Guinnes Record Of Book” sebagai negara tercepat
yang rusak hutannya. Selain itu juga pertambangan dengan menggunakan energi fossil yang marak, meningkatkan tingkat emisi karbondioksida di atmofer. Penghasil terbesarnya adalah negara industri seperti Amerika Serikat, Inggris, Rusia, Kanada, Jepang, China yang memiliki pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat 10 kali lipat lebih tinggi dari penduduk negara berkembang.
Kemudian untuk refleksi energi, yang dimaksud adalah pencerminan terhadap energi yang digunakan oleh manusia, apakah menghailkan emisi yang dapat menyuburkan pemanasan global atau malah menegah. Hal ini cukup penting untuk diperhatikan, karena sekarang ini energi penghasil emisi karbon terbesar masih digunakan. Padahal kita tahu energi bahan bakar alternatif sudah banyak ditemukan. Seperti misalnya untuk kebutuhan memasak, menggunakan energi biogas (gas dari kotoran ternak), yang dilakukan komunitas merah putih di Kota Batu. Dan juga sudah ada mobil berbahan bakar bioethanol dan yang berbahan bakar air, yang mana tingkat emisi karbonnya rendah.
Refleksi diri dan energi adalah solusi yang tepat dan pertama untuk penyelamatan bumi, karena akar penyebabnya adalah manusia, aktivitasnya dan energinya. Namun refleksi diri dan energi tidak bisa dilakukan oleh seseorang saja, diperlukan juga peran masyarakat internasional dan para pemimpin negara di seluruh penjuru dunia. Karena merekalah yang memiliki wewenang untuk membuat regulasi penyelamatan bumi dan lingkungan hidup.
Untuk semua msyarakat internasional, hendaknya mereka mulai refleksi diri dan energi dari sekarang, dari mulai muncul kesadaran (dari titik nadir) untuk penyelamatan bumi, karena bumi bukan hanya milik genrasi sekarang, tetapi juga milik generasi yang akan datang, yang akan memajukan dan memelihara bumi ini.
Berdasarkan wacana di atas dapat disimpulkan bahwa bumi kita ini semakin lama semakin tua dan semakin rusak diakibatkan oleh tangan kita sendiri baik sengaja maupun tidak sengaja, baik langsung maupun tidak langsung. Untuk itu kita harus tahu apa yang telah kita sumbangkan bagi kerusakan bumi ini dan apa yang telah kita sumbangkan bagi kemajuan dan keselamatan bumi ini. Kita harus refleksi diri dan energi pada awal kesadaran kita atau pada titik nadir kesadaran kita untuk memulai tahapan demi tahapan memperbaiki bumi dan segala isinya. Semoga wacana ini tidak hanya menjadi hiasan semata dan kesadaran sesaat, tetapi menjadi sebuah semangat untuk refleksi dan menjadi langkah awal perilaku penyelamatan bumi.

Daftar Putaka
Walhi.2007.Pemanasan Global, Tragedi Peradaban Modern.http://www.walhi.or.id/ kampanye/energi/iklim/070605_pmnsnglobl_hrlingk2007_sp : diakses 3 Mei 2008.
Eramuslim.2006.Akibat Pemanasan Global, Pulau-pulau di Indonesia Tenggelam Hampir Satu Meter.www.eramuslim.com: dikunjungi 3 Mei 2008.
Kompas. “Dampak Pemanasan Global Mengerikan” dalam harian Kompas Senin, 19 November 2007. www.kompas.com: dikunjungi 3 Mei 2008.
Wikipedia.Tanpa tahun.Pemanasan Global.id.wikipedia.org: dikunjungi 3 Mei 2008.

0 komentar:

Posting Komentar